Karakteritik, Pencernaan, dan Metabolisme Lemak
DEFINISI
LEMAK
Lipid adalah suatu
kelompok besar substansi biologik yang dapat larut dengan baik dalam pelarut
zat organik, seperti metanol, aseton, klorofom dan benzena. Sebaliknya lipid
tidak atau sukar alrut dalam air. Kelarutannya dalam air yang kecil disebabkan
karena kekurangan atom-atom yang berpolarisasi (O, N, S, P)
Asam lemak adalah
asam karbonat dengan rantai hidrokarbon yang panjang dengan rumus CH3(CH2)nCOOH
atau CnH2n+1-COOH. Sebagai komponen dari
lipid, asam lemak terdapat pada semua organisme. Asam lemak terutama berada
dalam bentuk ester dengan alkohol, misalnya dengan gliserol, spingosin atau
kolesterol. Dalam jumlah kecil asam lemak ditemukan juga dalam bentuk tidak
teresterisasi, sehingga dikenal sebagai asam lemak bebas.
Lemak adalah ester yang tersusun dari tiga asam lemak
dengan tiga gugus alkohol dari senyawa gliserol. Bila hanya satu asam lemak
yang teresterisasi dengan gliserol, disebutmonoasilgliserol (rantai asam lemak
= rantai asli). Melalui esterisasi dengan asam lemak lainnya akan dihasilkandiasilgliserol
dan selanjutnya triasilgliserol yang
merupakan lemak yang sesungguhnya.
KLASIFIKASI
LIPID
Lipid yang terdapat
dalam tubuh dapat diklasifikasikan menurut struktur kimianya ke dalam 5 grup.
Asam lemak kelas pertama berfungsi sebagai sumber energi utama bagi tubuh.
Selain itu, asam lemak adalah blok pembangun dari asam lemak ini
kompleks-kompleks lipid disintesis. Prostagladin, yang dibentuk dari asam lemak
tidak jenuh ganda tertentu, adalah substansi pengatur intrasel yang merubah
taggapan-tanggapan sel terhadap rangsangan luar.
Kelas lipid kedua
terdiri dari ester-ester gliseril. Ester-ester ini termasuk pula asigliserol,
yang selain merupakan senyawa antara atau pengangkut metabolik dan bentuk
penyimpanan asam lemak, dan fosfogliserid yang merupakan komponen utama lipid
dari membran sel.
Sfingolipid yang
merupakan kelas ketiga juga merupakan komponen membran. Mereka berasal dari
alkohol lemak sfingosin.
Sterol mencakup
kelas ke empat lipid. Derivat sterol, termasuk kolesterol, asam empedu, hormon
steroid, dan vitamin D sangat penting dari segi kesehatan.
Terpen, kelas
terakhir lipid, mencangkup dolikol dan vitamin-vitamin A, E dan K yang larut
dalam lemak. Derivat-derivat isopreni terdapat dalam jumlah kecil, tetapi
mempunyai fungsi metabolik yang sangat penting dan terpisah.
FUNGSI
LEMAK
Lemak dalam bahan
makanan merupakan pembawa energi yang penting. Pada pemberian makana yang
benar, lemak dalam bahan makanan dapat memberikan sekitar 30 – 35 % energi
tambahan bagi manusia. Namun peran sebagai pembawa ebergi bukanlah satu –
satunya fungsi lemak dalam bahan makanan. Lemak juga dapat berperan sebagai
pengantara bagi viamin-vitamin yang larut dalam lmak dan sebagai sumber untuk
asam lemak tak jenuh jamak yang esensial, seperti asam linoleat, asam lonolenat
dan asam arakidonat.
Di dalam lemak hewan
banyak terdapat asam lemak januh dam sebaliknya lemak pada tumbuh-tumbuan
(kecuali lemak kelapa) sebagian besar mengandung asam lemak tak jenuh dan yang
sering dijumpai adalah minyak (lemak cair). Melalui hidrasi kimia lemak
tumbuh-tumbuhan, minyak dapat diubah menjadi lemak padat (margarine), yang
disebut dengan proses pemadatan lemak.
Lemak di dalam tubuh
membentuk cadangan energi terbesar pada organisme hewan. Ia dapat digunakan
sebagai sumber atom karbon bagi berbagai sintesis yang terjadidalam tubuh
sendiri. Lemak ditemukan banyak sel dalam bentuk butir-butir lemak kecil.
Adiposit merupakan sel lemak yang khusus menyimpan lemak. Lemak di dalam
adiposit menyediakan keperluan manusia akan energi yang cukup selitar dua
sampai tiga bulan.
HIDROLISIS
LEMAK
Dalam tabung reaksi
(in vitro), lemak dapat dipecahkan melalui proses hirolisis alkali (penyabunan)
menjadi gliserol dan garan-garam dari asam lemak. Sabun merupakan garam alkali
padat dari asam lemak. Berdasarkan sifat-sifat amfipatiknya dapat larut dengan
baik dalam air dan juga mampu melarutkan lemak.
Di dalam organisme
(in vivo) pemecahan lemak dikatalis oleh enzim lipase. Penghancuran lemak bahan
makanan di dlam usus akan dibantu oleh suatu enzim lipase pankreas. Enzim ini
cenderung bekerja pada atom sn-C-1 dan atom sn-C-3 lemak. Hasil hidrolisis
tersebut ialah monoasigliserol dan dua asam lemak. Berlawanan dengan lemak
netral, senyawa-senyawa ini dapat dengan mudah di absorbsi oleh sel mukosa
usus.
PENYIMPANAN
LEMAK DAN PENGGUNAANYA KEMBALI
Asam-asam lemak akan
disimpan jika tidak diperlukan untuk memenuhi kebutuhan energi. Tempat
penyimpanan utama asam lemak adalah jaringan adiposa. Adapun tahap-tahap
penyimpanan tersebut adalah :
1.
Asam lemak ditransportasikan dari
hati sebagai kompleks VLDL.
2.
Asam lemak kemudian diubah menjadi
trigliserida di sel adiposa untuk disimpan.
3.
Gliserol 3-fosfat dibutuhkan untuk
membuat trigliserida. Ini harus tersedia dari glukosa.
4.
Akibatnya, kita tak dapat menyimpan lemak
jika tak ada kelebihan glukosa di dalam tubuh.
Jika kebutuhan
energi tidak dapat tercukupi oleh karbohidrat, maka simpanan trigliserida ini
dapat digunakan kembali. Trigliserida akan dipecah menjadi gliserol dan asam
lemak. Gliserol dapat menjadi sumber energi (lihat metabolisme gliserol).
Sedangkan asam lemak pun akan dioksidasi untuk memenuhi kebutuhan energi pula
(lihat oksidasi beta).
PENCERNAAN
LEMAK OLEH TUBUH
Makanan-makanan yang mengandung lemak
dicerna oleh tubuh melalui serangkaian tahapan panjang, baik secara mekanis
maupun kimiawi.
1.
Rongga Mulut
Proses pencernaan lemak
mula-mula terjadi di rongga mulut. Gigi melakukan fungsinya dalam meremahkan
dan menghaluskan lemak secara mekanis, sedangkan kelenjar air ludah yang
terdapat di bagian bawah lidah menghasilkan enzim lipase lingual yang berfungsi
untuk meminimalkan ukuran lemak agar lebih halus secara kimiawi.
2.
Esofagus dan Lambung
Setelah dikunyah, makanan yang
mengandung lemak akan ditelan dan melewati esophagus secara cepat. Di bagian
organ ini, lemak tidak sama sekali mengalami proses apapun. Ia hanya lewat
untuk kemudian masuk ke dalam lambung. Di dalam lambung, lemak akan bercampur
dengan bahan makanan lain untuk kemudian digiling secara mekanis melalui gerak
kontraksi lambung dan secara kimiawi melalui penambahan asam lambung (HCl) yang
diproduksi oleh dinding lambung.
3.
Usus Halus
Proses pencernaan lemak yang
sebenarnya terjadi di usus halus. Menyadari bahwa suatu zat hanya dapat dicerna
jika terlarut dalam air, sedangkan lemak atau minyak tidak bisa bercampur
dengan air, maka untuk dapat mencerna bahan satu ini proses emulsifikasi lemak
mutlak diperlukan. Proses emulsifikasi sendiri terjadi ketika lemak masuk ke
usus dua belas jari. Masuknya lemak ke organ ini, secara biologis akan membuat
kantung empedu menghasilkan cairannya. Cairan yang disekresikan hepatosit hati
ini adalah zat yang mampu mengemulsikan lemak dan merubah ukurannya menjadi 300
kali lebih kecil dari ukuran semula. Dengan bantuan enzim lipase dari pankreas,
emulsi lemak kemudian dihidrolisis menjadi asam lemak dan gliserol. Keduanya
akan bereaksi dengan garam empedu untuk kemudian menghasilkan butir-butir lemak
(micel) yang siap diabsorpsi oleh usus kosong (jejunum) dan usus penyerapan
(ileum). Secara difusi pasif, butir-butir lemak akan diserap oleh membran
mukosa di dinding usus kosong dan usus penyerapan. Butir-butir lemak ini
kemudian dibawa dan disalurkan melalui aliran darah ke seluruh tubuh.
4.
Usus Besar dan Anus
Orang dewasa umumnya dapat
mencerna dan menyerap lemak maksimal 95% dari keseluruhan makanan yang
dikonsumsinya. Adapun 5% lemak yang tidak diserap akan mengalir menuju usus
besar untuk kemudian dikeluarkan dari dalam tubuh melalui feses.
METABOLISME
LEMAK
Lemak yang tidak
segera diperlukan setelah absorbsi disimpan oleh tubuh dalam jaringan adiposa.
Bila diperlukan, lemak dikeluarkan dari tempat penyimpanan dalam hati diubah
menjadi gliserol dan asam lemak, bentuk yang paling mudahdapat digunakan dalam
tubuh. Bila lemak terus di metabolisme dalam hati maka akan terdapat ampas
berupa zat keton yang hanya terbatas penggunaanya. Kalau banyak dihasilkan di
hati maka akn menjadi kalori dalam darah, dan hal ini terjadi pada saat
kelaparan karena tubuh tidak mempunyai sesuatu untuk digunakan selain dari lemak
di dalam jaringan adiposa.
1.
Pencernaan : Lipase lambung
menghasilkan sedikit hidrolisis lemak sehingga lipase pankreas dan lipase usus
memecah lemak menjadi gliserin dan asam lemak.
2.
Absorbsi : Gliserin dan asam lemak
oleh kakteal disalurka ke duktus dan masuk ke aliran darah, kemudian dialirkan
ke deluruh jaringan tubuh. Hati membantu mengoksidasi lemak dan mempersiapkan
untuk disimpan dalam jaringan, lemak dioksidasi untuk memberi panas dan tenaga
serta lemak yang disimpan mengandung vitamin A dan B. Produksi buangan hasil
pembakaran lemak dalam jaringan akan diekskresikan oleh paru-paru dalam bentuk
air dan karbondioksida melalui kulit dalam bentuk keringat, ginjal dalam bentuk
urine serta saluran pencernaan dalam bentuk feases.
KATABOLISME
LEMAK
1.
Pelepasan dan Transport Asam Lemak
Pemecahan lemak (lipolisis) di
dalam jaringan lemak dikatalis oleh suatu lipase yang peka hormon yang diatur
oleh suatu kontrol hormonal yang kompleks. Asam lemak yang dilepaskan dari
jaringan lemak akan di transpor di dalam plasma dalam bentuk tidak
teresterisasi (free ratty asid = FFA). Ini hanya terjadi pada asam lemak rantai
pendek yang benar-benar larut, sedangkan asam lemak rantai panjang dan kurang
larut dalam air akan terikat pada albumin. Untuk dapat digunakan, asam lemak
dari plasma dimasukkan ke dalam sel dan berada dalam bentuk yang terikat
protein. Kecuali jaringan otak dan eitrosit, semua jaringan dapat memecahkan
asam lemak melalui oksidasi-β.
2.
Pemecahan Asam Lemak : Oksidasi-β
Dalam oksidassi-β asam lemak
dikatabolisis dari ujung karboksil. Dua
atom hidrogen dikeluarkan dari atom carbon-β, C3 dalam rantai, dan terbentuk
suatu gugus keto. Pemecahan antara atom karbon-α dan –β terjadi, dan fragmen
dua atom karbon yang terdiri dari karbon karboksil asli dan atom karbon-α, dilepaskan
sebagai asetil KoA. Oksidasi asam lemak 16-atom karbon akan menghasilkan
delapan unit asetil KoA tetapi hanya memerlukan tujuh siklus oksidasi-β. Satu
urutan oksidasi-β yang menghasilkan 1 mol asetil KoA dan memberi 5 mol ATP
kepada sel. Tiap mol aseil KoA bila di oksidasi dalam siklus Krebs menjdi CO2
dan H2O, memberi tambahan ikatan fosfat energi tinggi kepada sel yang ekivalen
dengan 12 mol ATP.
3.
Pengaturan Penghancuran Asam Lemak
Kadar asam lemak bebas (FFA) di
dalam plasma bertugas menyediakan asam lemak yang dibutuhkan oleh jaringan yang
tidak dapat membentuk asam lemak melalui sintesis sendiri (lipogenesis).
Setelah diaktifasi menjadi asil KoA, FFA intra sel disimpan dan dipecahkan. Penyimpanan
: Pengesteran dari asam lemak yang diaktifkan (asil KoA) dengan gliserol
menyebabkan terbentuknya fosfolipid yang diperlukan sebagai komponen membran
dan triasilgliserol (lemak) yang disimpan sebagai cadangan lemak. Penghancuran
: Penghancuran asam lemak terjadi di mitokondria. Dengan bantuan toraks karnitin,
asam lemak di transpor dari sitoplasma ke dalam mitokondria. Dalam mitokondria
asam lemak dipecah menjadi CO2 melalui kerjasama antara oksidasi-β, daur asam
sitrat dan rantai pernafasan, dan akibatnya dihasilkan sejumlah ATP.
4.
Penghancuran Asam Lemak Tak Jenuh
Penghancuran asam lemak tak
jenuh berlangsung seperti penghancuran asam lemak jenuh yaitu melalui
oksidasi-β, hingga mencapai ikatan rangkap cis pada C-9. Karena pada oksidasi-β
produk yang tidak jenuh selalu membawa satu ukatan rangkap berposisi trans,
maka asam lemak tidak jenuh diubah dari isomer 3,4- cis menjadi isomer 2-trans
melalui suatu isomerase. Kemudian penghancuran melalui oksidasi-β dapat
dilanjutkan.
5.
Penghancuran Asam Lemak Rantai Ganjil
Pada asam lemak dengan rantai
ganjil terjadi proses penghancuran seperti pada asam lemak normal dengan jumlah
atom C genap, yang artinya setelah masuk ke dalam sel asam lemak akan di
aktifasi menjadi asil KoA denagn menggunakan ATP. Kemudian dengan bantuan torak
karnitin ditranspor ke dalam mitokondria untuk dipecah melalui proses
oksidasi-β. Propionil-KoA yang tetap tersisa dengan 3 atom C dikarboksilase
oleh propionil-KoA karboksilase menjadi metilmalonil-KoAdan setelah
isomerisasi, metilmalonil KOA diubah menjadi suksinil-KoA.
6.
Oksidasi α dan ω
Oksidasi α asam lemak bekerja
menghancurkan asam lemak bercabang metil. Proses ini terjadi melalui pemisahan
terhadap residu C1, dimulai dengan suatu hidroksilase, tidak membutuhkan
koenzia A dan juga tidak membutuhkan ATP. Oksidasi ω yaitu oksidasi dari ujung
akhir asam lemak yang dimulai dengan suatu hidroksilasi oleh suatu
monooksigenase (oksidase campuan secara fungsional) dan dilanjutkan melalui
oksidase menjadi asam lemak dengan dua gugus karboksi. Asam lemak ini
dipecahkan menjadi oksidasi-β pada kedua sisi hingga menjadi asam dikarbonat C8
atau C6 dan diekskresikan melalui urine.
ANABOLISME
LEMAK
1.
Biosintesis Asam Lemak
Biosintesis asam lemak
(lipogenesis) berlangsung di dalam sitoplasma dari banyak jaringan, terutama di
dalam hati, jaringan lemak, ginjal, paru-paru dan kelenjar susu. Substrat yang
trpenting dan pemasok atom karbon adalah glukosa. Asetil-KoA yang membentuk
asam lema, tersedia melalui glikolisis dandekarboksilasi oksidatif piruvat. Langkah
pertama lipogenesis adalah karboksilasi asetil-KoA menjadi maloni-KoA.reaksi
ini di katalis oleh asetil-KoA karboksilase. polimerisasi menjadi asam lemak
terjadi di dalam sitoplasma dalam suatu kompleks sintase asam lemak. Yang
bekerja sebagai zat pereduksi pada lipogenesis adalahNADPH + H+. koenzim ini
dapat berasal dari berbagai sumber. NADPH dapat terbentuk di dalam jalur
heksosa monofsfatmelalui reaksi dari glukosa 6-fosfat dehidrogenase dan
6-fosflogukonat dehirogenase. Senyawa ini juga dapat terbentuk oleh suatu
isositrat dehidrogenase yang tergantung pada NADP+atau oleh enzim malat yang
mengubah malat menjadi piruvat dan CO2. Enzim-enim tersebut berlokalisasi di
salam sitoplasma.
2.
Asetil-KoA Karboksilase
Langkah dari biosintesis asam
lemak yang menentukan kecepatan reaksi
adalah pembentukan maloni-KoA dari asetil-Koa melalui karboksilasi. Asetil-KoA
karboksilase mengandung biotin sebagai gugus prostetik. Pada langkah pertama
akan dihasilkan suatu bioksin-karboksi dengan memecahkan ATM dan menggunakan
hydrogenkarbonat. Asetil-KoA terutama berasal dari glikolisis, tetapi selain
itu juga dari metabolisme asam amino dan pemecahan alcohol. Asetil-KoA
karboksilas dalah suatu enzim aloserik. Enzim ini distimulasi oleh asam sitrat
dan dihambat oleh asam lemak yang diaktifakan (asetil-KoA). Konsentrasi sam
sitrat yang berasal dari mitokondria, di dalam sitoplasma adalah tinggi bila
penyediaan subsrat baik. Kemudian sel-sel membentuk pesediaan energy dalam
bentuk lemak. Hormon mengatur asetil-KoA karboksilase melaluiinterkonversi.
Insulin mengaktifkan enzim melalui suatu fosfatase protein, glukagon dan
adrenalin membuatnya menjadi tidak aktif melalui suatu kinae protein. Selain
itu insulin dan gluagon juga bekerja dalam jangka panjang melalui induksi dan
represi enzim.
3.
Kompleks Sintesa Asam Lemak
Biosintesis asam lemak dikatalis
didalam sitoplasma oleh suatu kompleks sinatase asam lemak yang membutuhkan
asetil-KoA sebagai molekul awal.Reduktor dalam sintesis asam lemak adalah NADPH
+ H+ yang secara keseluruhan akan diubah 1 asetil-KoA, 7 malonil-KoA dan 14
NADPH + H+ menjadi palmiat, 7 CO2, 6 H2O, 8 KoA dan 14 NADP+. Aktivitas enzim
secara tiga dimensi dibagi menjadi tiga domain yang berbeda. Domain 1
mengkatalisis masuknya substrat asetil-KoA (atau asil-KoA) dan malonil-KoA
dengan bantuan (ACP)-S-asetil transferase dan (ACP)-S-maloni trferase, dan
selanjutnya mengkatalisis kondendasi dari keduanya dengan bantuan
3-ketoasil-(ACP)-sintase. Domain II mereduksi rantai asam lemak yang sedang
tumbuh dengan bantuan 3-ketoasi-(ACP)-reduktase, 3-hidroksiasil-(ACP)-dehidratase
dan enoil-(ACP)-reduktase. Yang terakhir Domain III berfungsi membebaskan
produk yang telah selesai setelah 7 langkah rantai panjang dengan bantuan
asil-(ACP)-hidrolase.
4.
Reaksi-reaksi Sinatase Asam Lemak
Biosintesis palmiat dimulai
dengan pemindahan satu residu asetil ke residu sistein yang telah disinggung
diatas dan satu residu malonil ke 4-fosfopantetein pada (ACP). Perpanjangan
rantai berlangsung melalui pemindahan gugus asetil ke C-2 dari residu maloni,
dimana gugus karboksi bebas dilepaskan sebagai CO2. Ketiga langkah reaksi
selanjutnya, yaitu reduksi dari ggus 3-keto penglepasan air dn reduksi yang
diperbaharui, menghasilkan suatu asam lemak dengan 4 atom C. produk antara ini
akan dipindahkan kembali dari ACP ke residu sistein dengan bantuan asil transferase,
sedemikian rupa sehingga daur dapat kembali dimulai dengan memasukkan
matonil-KoA ke ACP.
No comments for "Karakteritik, Pencernaan, dan Metabolisme Lemak"
Post a Comment